Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Januari 2017

Trisakti Soekarno dan Fidel Castro


Presiden pertama Republik Indonesia Soekarno dalam Pidato Trisakti tahun 1963 menegaskan:
  1. Berdaulat secara politik
  2. Berdikari secara ekonomi
  3. Berkepribadian secara sosial budaya

Inilah suatu konsep yang sempat di keluarkan oleh Presiden pertama Indonesia yaitu Soekarno atau lebih di kenal dengan sebutan Bung Karno. Bung Karno lahir di Surabaya, Jawa Timur pada tanggal 6 Juni 1901 dari pasangan Raden Soekemi Sosrodihardjo dengan Ida Ayu Nyoman Rai. Ayah Soekarno adalah seorang guru. Raden Soekemi bertemu dengan Ida Ayu ketika dia mengajar di Sekolah Dasar Pribumi Singaraja, Bali. Soekarno hanya menghabiskan sedikit masa kecilnya dengan orangtuanya hingga akhirnya dia tinggal bersama kakeknya, Raden Hardjokromo di Tulung Agung, Jawa Timur.
Pengaruh Soekarno pada sejarah Indonesia besar sekali, tidak mungkin orang memungkiri. Ir.Soekarno memang orang yang luar biasa. Soekarno juga dikenal sebagai seorang pemimpin yang bijaksana dan sangat berbakat dalam berpolitik, beliau juga dikenal sebagai seorang orator ulung yang handal, pidatonya selalu menggelegar dan kata kata motivasinya mampu membangunkan jiwa-jiwa para pejuang terbakar dalam api semangat yang hebat untuk melawan segala bentuk ketidak-adilan dan penjajahan.

Trisakti adalah satu konsep pemikiran radikal Bung Karno karena dengan pemikiran tersebut jiwa dan semangat kebangsaan nasionalis Indonesia yang berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian di bidang budaya adalah inti dari ajaran Bung Karno yang disebut Trisakti. Pada masa pemerintahannya, konsep pemikiran Trisakti ini dijadikan prinsip oleh Bung Karno untuk membangun bangsa dan negara Indonesia ketika itu.

Fidel Castro mengatakan dengan tegas, dirinya adalah murid Bung Karno. Itu dikemukakannya sendiri kepada Bung Karno,ketika dua tokoh Gerakan Nonblok ini bertemu, dan kepada Adam Malik ketika almarhum menjabat sebagai Menteri Luar Negeri RI. Secara terbuka Castro menegaskan bahwa dirinya telah mengadopsi ajaran-ajaran Presiden RI pertama itu untuk dijadikan acuan guna memimpin negaranya.


Ajaran Soekarno yang diadopsi oleh Fidel Castro dalam konteks Kuba adalah ajaran Trisakti. Yang menarik adalah bahwa Fidel Castro mengadopsi dan menerapkan prinsip Soekarno itu secara konsisten dan tegar dalam seluruh sistem pemerintahannya. Konsistensi yang paling kentara adalah menolak segala bentuk imperialisme dan kapitalisme yang merupakan pendiktean oleh Barat tentang ekonomi, politik dan budaya. Castro sangat jelas menolak kehadiran dan campur tangan IMF dalam negaranya, bahkan menyerukan agar lembaga pendanaan kapitalis internasional yang menindas negara-negara berkembang itu semestinya dibubarkan dan dihentikan perannya. Ini merupakan wujud pelaksanaan Trisakti yang konsisten oleh Castro dalam konteks Kuba, yakni kemandirian dalam politik, berdikari dalam ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan. Kekuatan ekonomi sendiri merupakan landasan bagi pemerintah Kuba untuk membangun negara dan rakyatnya. Tidak ada hutang luar negeri yang diterima sebagai landasan, sehingga tak ada kewajiban cicilan bunga hutang yang tinggi yang harus dibayar oleh pemerintah Kuba. Seluruh pendapatan negara dialokasikan pertama-tama untuk belanja tunjangan sosial, dan kedua untuk belanja pendidikan. Kepentingan lain berada dalam urutan prioritas berikutnya. Karena berdikari dalam bidang ekonomi, Kuba telah mampu mempertahankan kedaulatan dalam bidang politik dan kedaulatan dalam kebudayaan nasionalnya.

Sabtu, 21 Januari 2017

Machiavelli dan Kekuasaan


Malam ini ditemani sebuah gelas yang berisikan kopi hitam yang agak lumayan pahit, sambil berbincang - bincang mengenai Machiavelli. Machiavelli atau nama aslinya Niccolo Machiavelli juga di sebut sebagia tokoh Realis, dia lahir pada zaman Renaisans dari seorang pengacara kaya Italia pada tahun 1469. Pemikiran Machiavelli jarang sekali kita temukan dukungan moral di dalamnya. Machiavelli beruntung karena bukan hanya mendapatkan pendidikan tinggi, melainkan juga posisi dalam pemerintahan kota Florence. Karirnya sebagai penasihat politik berakhir tragis ketika Florance dikuasai keluarga Medici yang memusuhinya dan sempat menjebloskannya ke penjara selama setahun. Tapi setelah dia bebas, machiavelli mengasingkan dirinya ke pinggir kota untuk menulis dan merenungkan hasil-hasil pengalamanya. Dalam pengasinganya dia menghasilkan dua buku yang sangat termasyur, yaitu Sang Pangerang terbit 1532 dan Diskursur Tentang Sepuluh Buku Pertama Dari Titus Livius, juga terbit 1531. Dan mamungkin tak banyak mengetahui bahwa Machiavelli juga menuliskan tentang komedi.

Dalam hal kemampuannya dalam mengkonstruksi negara, Machiavelli tak ada tandingannya bahkan dia mengatakan bahwa Negara jangan sampai dikuasai agama, sebaliknya negaralah yang harus menguasai agama. Agama baginya penting jika dibutuhkan atau memberikan dampak positif terhadap kita misalnya agama di gunakan untuk meninabobokan rakyat atau meningkatkan patriotisme masyarakat. Karena bagi Machiavelli beranggapan bahwa Manusia adalah mahluk yang di kendalikan oleh kepentingan diri, manusia adalah mahluk irasional yang tingkah lakunya di ombang ambingkan oleh emosinya.

Dalam konsep kepemimpinan yang dia rumuskan yaitu bahwa seorang penguasa atau pemimpin harus bisa membentuk opini umum yang bisa mengendalikan tingkah laku warganya. Untuk memperkokoh kekuasaan penguasa haruslah mampu memobilisasi nafsu-nafsu rendah mereka yang ingin dikuasainya demi maksudnya sendiri. Bahkan ketika berbicara tentang strategi perang Machiavelli beranggapan di dalam sebuah perangpun, seorang penguasa dianjurkan bersikap realis yaitu memihak kepada kubu yang paling kuat agar kita mendapatkan bagian maksimal dalam pampasan perang. Penguasa yang cerdikpun bagi Machiavelli adalah penguasa yang menyingkirkan orang-orang yang potensial menjadi saingannya sebagai gantinya dia akan menempatkan orang-orang yang mematuhinya di sekitarnya.


Jika ajaran Machiavelli dianggap normatif. Dia tidak berbicara tentang apa yang seharusnya ada, tetapi melainkan apa yang nyatanya ada dalam politik. Bahwa moralitas dapat diperhatikan dalam kekuasaan hanya sejauh ia berguna untuk kekuasaan. Seorang pemimpin yang ingin menegaskan dirinya haruslah mampu bertindak jahat atau tegas jika itu di perlukan. Dengan cara ini Machiavelli membenarkan segala cara untuk meraih dan mempertahankan kekuasaan, entah lewat kekerasan militer, propaganda yang menipu atau bahkan peperangan jika itu di perlukan.